Minggu, 10 September 2023

Catatan Perkuliahan Semester 6

 Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahirrahmanirrahim

Haiii....

Apa kabar kakak-kakak dan abang-abang mahasiswa ? semoga tetap sehat, semangat dan selalu bahagia yaa.

kembali lagi dengan saya Nurul Huda Detalia, terhitung 6 bulan yang lalu saya menulis di blog ini, maka terhitung pula telah satu semester saya menjalani perkuliahan. Yaps, akhirnya saya bisa melewati semester 6 yang cukup hectic dan pusing dengan tugas.

Pada semester 6 ini banyak suka duka yang saya lalui, tapi jika bisa dihitung kemungkinan banyak sukanya sih hehe, karena di semester 6 ini saya banyak sekali mendapat pengalaman berharga seperti praktik mengajar dikelas dengan berbagai macam metode dan tentunya tak luput dari komentar dosen yang cukup menyayat hati sihh (tak se-lebay itu sih sebenarnya). Di semester ini saya dan teman-teman saya juga banyak meluangkan waktu bersama, walaupun hanya sekedar memasak dan makan bersama di rumah teman kelas kami yang nge-kost. Hal ini kami lakukan karena mengingat masa kami yang hampir habis, karena menjelang semester akhir biasanya akan sibuk masing-masing entah itu dengan tugas akhirnya atau karna pekerjaan dan kesibukan lainnya.

Jika dilihat dukanya mungkin karena diri merasa terlambat dan tertinggal jauh dengan proses teman-teman, belum lagi melihat teman-teman seperjuangan yang lain yang sudah seminar proposal atau bahkan sudah ada yang selesai pendidikan. terkadang terbesit pertanyaan kapan dari dalam diri, tapi tak apa, bukankah timing kita berbeda, proses bahkan kesibukan kita juga berbeda, jadi bagaimana mungkin kita membandingkan kita dengan proses orang lain, yang terpenting kita tidak menyerah yaa dear, jangan terlalu keras dengan diri sendiri, istirahat dulu nikmati prosesnya nanti baru lanjut lagiii, stop using your energi to worry, use your energi to believe, love, heal and growing spiritually.

Di semester 6 ini saya mengambil 24 SKS dengan jumlah mata kuliah yang saya ambil berjumlah 7 mata kuliah, yaitu Magang 2, Penelitian Kuantitatif, Pembelajaran Akidah akhlak, Pembelajaran Al-Quran Hadist, Bimbingan Konseling Pendidikan, Pembelajaran SKI dan juga pembelajaran fiqih.

Awalnya saya sempat pesimis untuk menghadapi kegiatan pembelajaran karena sudah dapat dipastikan pada semester ini, level pembelajaran akan lebih sulit. Di semester 6 ini, akan lebih banyak praktek daripada teori, sebab di semester 6 ini, sudah mulai akan mempersiapkan diri untuk semester berikutnya yang pembelajarannya lebih banyak praktek di lapangan. Yang menjadi permasalahan adalah saya yang masih belum pandai berbicara di depan umum, kemampuan public speaking saya masih jauh dari kata baik, selain itu saya juga masih sering tremor dan gugup ketika tampil di depan umum apalagi langsung tampil di depan dosen. Tapi ada pepatah mengatakan bahwa teori dan praktik itu sama pentingnya, teori tanpa praktik adalah sama saja dengan bullshit (omong kosong). Karena sebenarnya teori dan praktek saling berkesinambungan, practice makes perfect. Teori tanpa praktek bagaikan orang lumpuh, sedangkan praktek tanpa teori bagaikan orang buta. Maka dengan mengkolaborasikan keduanya maka akan tercapailah suatu tujuan. Sebab tanpa kolaborasi, teori akan pasif tanpa aksi, sedangkan praktik tanpa teori akan membabi-buta tanpa visi. Jika digambarkan, orang yang hanya mengandalkan teori tanpa praktek ibarat orang yang memahami seluk-beluk teori mengemudi, namun dia sendiri tidak mampu mengemudi. Sebaliknya, orang yang melakukan praktik tanpa memahami teori sama seperti halnya orang yang mendirikan sholat berulang-ulang, namun dia tidak paham teori tentang sholat, sehingga dia sholat dalam keadaan tidak berwudhu. Dia merasa melakukan sesuatu, padahal perbuatannya salah arah bahkan sia – sia. Banyak yang mengatakan, bahwa teori jauh lebih mudah daripada praktik. Memang benar adanya, bicara tentu lebih mudah daripada praktek. Tapi kalau tidak melakukan praktek, karena merasa malas atau minder akibat terbayang sulitnya praktik dan ribetnya perjuangan yang harus dilakukan, maka tidak akan ada hasil yang diperoleh, adanya hanya akan stuck di tempat tanpa adanya kemajuan sebab tidak ada keberanian untuk melangkan maju ke depan melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas diri. Maka, semua kembali ke diri kita sendiri, apa motivasi kita dan seberapa kuat motivasi tersebut. Pada semester 6 ini, program studi Pendidikan Agama Islam juga memiliki agenda “Praktikum Mengajar”, Kegiatan ini ditujukan untuk mempersiapkan para mahasiswanya untuk mengikuti PPL di semester 7.

Di semester ini kegiatan benar-benar fuul, tugas juga full dengan RPP yang digunakan untuk praktek mengajar, setiap hari harus belajar metode dan startegi pembelajaran. Selain itu, di semester 7 ini saya mendapat kesempatan menjadi PJ sekaligus bendahara dari Even besar tahunan yaitu seminar nasioanal yang dihadiri oleh Dokter Muhammad Muhammad Imam Daud, beliau adalah ppengejar tetap di Fakultas Adab di Kampus QanahSwez di Isma’iliyyah Mesir. Jujur, mungkin ini salah satu hadiah untuk akhir semester 6 ini, rasanya lelah selama 6 bulan yang saya rasakan terasa terbayar sejak mendengar nasihat dari Syekh Daud untuk selalu bersemangat dalam menuntut ilmu, karena segala sesuatu di dunia butuh ilmu, lelah, capek, malas dan lain sebagainya adalah bumbu di dalam proses menuntut ilmu, beliau juga berpesan untuk selalu sabar dengan proses yang sedang dijalani,

Pada akhir semester 6 ini, kami juga akan melaksanakan kegiatan besar yang pasti akan dilaksanakan oleh setiap kampus, kegiatan ini yaitu, Kelompok Kerja Lapangan. Kegiatan ini dimulai dari tanggal 20 Juli hingga tanggal 31 Agustus, jika dihitung kurang lebih 43 hari kami akan turun ke desa-desa untuk mengabdikan diri dan membantu masyarakat sekitar tempat posko kami.

Setiap perguruan tinggi memiliki Tri Dharma Pendidikan, yaitu Pendidikan/pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian dan semua Mahasiswa wajib melaksanakan Tri Dharma Pendidikan tersebut. Setelah Mahasiswa mendapatkan pendidikan/pengajaran dari dosen di bangku perkuliahan, Mahasiswa akan melakukan penelitian dan melaksanakan pengabdian. Pengabdian tersebut berupa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang merupakan mata kuliah intrakurikuler yang kegiatannya berbentuk pengabdian masyarakat dan kegiatan tersebut berlangsung selama kurang lebih 40 hari guna mendapatkan pengalaman nyata dan menambah wawasan karena sudah terjun langsung ke Masyarakat.

Meski bukan menjadi tujuan utama dari program KKL IAIN Pontianak, mengajar menjadi semacam menu wajib di tiap kegiatan KKL. Pengabdian yang dilaksanakan oleh Institut Agama Islam (IAIN) Pontianak tidak hanya berfokus kepada masyarakat tetapi juga pengabdian terhadap pendidikan baik itu pendidikan formal maupun non formal seperti pondok pesantren.

Kegiatan pengabdian ini yang obyeknya berlokasi di Desa Sungai Rasau Kecamatan Sungai Pinyuh. Desa Sungai Rasau adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat. Desa ini identik dengan warganya yang religius ditandai dengan banyaknya kegiatan-kegiatan keislaman seperti yasinan, tahlilan dan juga shalawat nabi. Kegiatan tersebut berlangsung setiap minggu sekali yang diikuti oleh warga Desa Sungai Rasau.

Selain itu, di sini juga banyak sekolah yang bernada islami, mulai dari Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) serta juga terdapat Madrasah Diniyah dan Taman Pendidikan Qur’an (TPQ). Di desa Rasau ini, anak-anak mulai dari TK/RA sudah mulai dikenalkan dengan keislaman, contoh kegiatan yang saya temui di sini yaitu pengamalan sholat dhuha sebelum memulai pelajaran. Pengamalan yang lain yaitu di TPQ mulai diajari untuk ber-shalawat, dan menghafal doa-doa pendek agar nilai-nilai keislaman tersebut tidak hilang di tengah era 4.0 ini.

Pendidikan Agama Islam yang dikelola secara non formal bagi anak di jenjang usia SD dan SMP bisa mencegah pergaulan bebas. Di samping itu, pendidikan Diniyah itu harus diterapkan sejak dini agar dapat membentuk karakter anak yang bertaqwa dan memiliki akhlak yang mulia. Sudah tidak diragukan lagi bahwa upaya tersebut dapat menjadikan benteng penguatan karakter yang baik untuk anak-anak.

Madrasah Diniyah merupakan lembaga pendidikan yang memberikan pelajaran keagamaan, seperti: Aqidah Akhlaq, Fiqih, Hadits, Nahwu Shorrof dll yang tidak dapat diperoleh di sekolah umum. Para orang tua yang resah karena merasa Pendidikan Agama Islam yang diperoleh di sekolah umum kurang memadai, akan langsung memasukkan putra putri mereka ke Madrasah Diniyah. Di sini lah peran Madrasah Diniyah dalam melengkapi Pendidikan Agama Islam yang dapat menjadi wadah untuk mencetak generasi Islam berkualitas yang bertaqwa dan berakhlak mulia.

Di desa rasau tepatnya di Dusun Barat RT 04 RW 09 terdapat satu-satunya pondok pesantren Diniyah yakni pondok pesantren Al-Husniyyah, di pondok pesantren ini hanya menyelenggarakan pendidikan nonformal saja yaitu Madrasah Diniyah dan juga Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Madrasah Diniyah tersebut bersifat terbuka bagi siapa pun baik di usia Pendidikan dasar maupun pendidikan menengah.

Awal datang ke tempat KKL yaitu pada hari kamis tanggal 20 Juli 2023. Saya berangkat sekitar pukul 09:00 WIB dengan teman-teman sekelompok dan tiba pukul 10:00 WIB di Desa Rasau Kecamatan Sungai Pinyuh tepatnya di rumah Bapak Suryadi. Kedatangan kami disambut baik oleh Bapak Suryadi dan itu membuat kami senang, apalagi melihat lingkungan sekitar desa sungai rasau yang asri dan sejuk.

Minggu pertama, kegiatan KKL kelompok Mempawah 3 diisi dengan silaturahmi ke rumah-rumah warga serta penyusunan program kerja. Saya dan teman-teman KKL Mempawah 3 posko 1 berkeliling ke rumah warga sekitar untuk bersilaturahmi sekaligus melihat-lihat lingkungan sekitar. Para warga Desa Sungai Rasau sangat ramah-ramah terhadap kami semua. Kebanyakan dari warga Desa Sungai Rasau adalah seorang pekebun nanas, tetapi tidak sedikit pula yang bekerja di luar daerah bahkan luar negeri.

Selain itu kami juga bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Al-Husniyyah yang berada tidak jauh dari posko kami. Di sana kami disambut langsung oleh Kyai Munasik Anwar sebagai pimpinan sekaligus pengasuh pondok pesantren Al-Husniyyah. Selain menyempatkan bersilaturahmi kami juga sekaligus meminta izin terlebih dahulu kepada Kyai Munasik selaku Pembina Madrasah Diniyah untuk membantu mengajar di sana.

Awalnya kami sempat bimbang untuk menjalankan program kerja mengajar di pondok pesantren tersebut, sebab jika dilihat dari riwayat pendidikan yang kami ampu banyak mahasiswa yang bukan berasal dari pondok pesantren, sehingga pasti akan sulit jika untuk mengajar disana sebab di pondok pesantren sudah pasti menggunakan kitab. Tetapi alhamdulillah setelah kami mendiskusikan hal tersebut kepada Kyai Munasik, akhirnya niat baik kami disambut dengan hangat oleh beliau, bahkan beliau mengatakan bahwa Ia sangat senang mendapati mahasiswa dan mahasiswi KKL yang ingin membantu mengajar di pondok pesantren Al-Husniyyah. Selain itu, para santri pondok pesantren Al-Husniyyah juga sangat senang dengan adanya kedatangan kami. Para guru Madrasah Diniyah termasuk guru tugas dari Pondok Pesantren Assirojiyah Kajuk Sampang Madura, sangat mendukung dan menyambut baik pelaksanaan kegiatan pengajaran yang akan kami laksanakan di Pondok Pesantren Al- Husniyyah tersebut.

Tidak hanya silaturahmi, dan membahas perizinan namun sedikit banyak kami membahas program kerja juga. Beliau senang memberikan motivasi kepada kami, sehingga memacu semangat kami untuk terus berproses menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama yang selalu menebar kebaikan di mana pun berada. Beliau juga berpesan kepada kami untuk selalu memotivasi para santri agar mereka giat belajar sehingga dapat meraih cita-citanya.

Hari pertama kami mengajar di pondok pesantren Al-Husniyyah yaitu pada hari Sabtu tanggal 29 Juli 2023, kegiatan mengajar tersebut dimulai dengan perkenalan singkat anggota KKL Mempawah 3 Posko 1 dengan para santri. Pada hari pertama kami mengajar disambut dengan antusias yang luar biasa oleh para santri disana. Berbagai rentang usia anak kami temui disana, mulai dari usia 7 tahun hingga yang sudah bersekolah di MTs. Jumlah santri yang berada di Pondok pesantren Al-Husniyyah ini kurang lebih 70 orang anak.

Pada hari pertama kami tidak langsung mengajar, kami masih mencoba berta’aruf dan beradaptasi dengan lingkungan pondok pesantren Al-Husniyyah, kami mencari informasi mengenai jadwal dan juga kitab-kitab yang diajarkan di pondok pesantren ini, agar sebelum terjun langsung mengajar, kami mempunyai sedikit bekal untuk disampaikan kepada para santri di sana.

Di pondok pesantren Al-Husniyyah ini, terdapat jenjang Madrasah Diniyah dan juga TPQ. Adapun untuk kelas TPQ dimulai pada jam 15:00 atau setelah waktu Ashar hingga pukul 16:30. Kelas TPQ kemudian dibagi lagi menjadi 3 tingkatan yaitu tingkat 1, tingkat 2 dan tingkat 3. Kami saling membagi tugas dan menempatkan diri ke 3 kelas tersebut. Adapun proses pembelajaran dimulai dengan membaca doa - doa yang biasa diamalkan untuk kehidupan sehari-hari.

Kemudian setelah itu berlanjut ke kegiatan menulis beberapa kata dalam iqra’, baru setelah selesai menulis dilanjut dengan mengaji yaitu guru mendengarkan dengan saksama bacaan murid yang mengaji. Mulai dari makhraj, pelafalan, serta panjang-pendeknya. Para murid maju satu-persatu dan menyetorkan bacaannya kepada guru, sedangkan murid yang lain menunggu giliran dengan menyalin bacaan tartil yang ada pada buku mereka. Metode yang digunakan dalam belajar di kelas TPQ ini adalah metode tartila. Selain belajar, kami juga selingi kegiatan pembelajaran dengan bernyanyi nyanyian islami dan ice breaking, karena setaraf anak TK/SD pasti akan sangat senang ketika kondisi kelas menyenangkan dan dapat merangsang ketertarikan anak didik dalam pembelajaran sehingga pembelajaran dapat lebih aktif dan efektif.

Sedangkan untuk kelas Madrasah Diniyah dimulai pada jam 13:00 atau setelah Dzuhur hingga pukul 15:00, kemudian berlanjut lagi setelah salat Asar. Biasanya, para murid yang mengikuti kelas ialah murid yang telah tamat bacaan tartilnya sehingga diperbolehkan untuk mengikuti kelas ini. Kelas Diniyah ini, terbagi menjadi 6 kelas. Mata pelajaran di Madrasah Diniyah yang diajarkan yaitu ilmu nahwu sorrof (ilmu alat bagian dasar), Bahasa Arab, Fiqih, dan juga Akidah. Pada tingkatan Madrasah Diniyah ini, pembelajaran sudah mulai menggunakan kitab-kitab dasar untuk kelas rendah seperti kitab Aqidatul Awwam, Syafinatun Najah, Hidayatus Shibyan , Akhlaq lil Banin, Ta’lim Muta’allim, dan kitab Sullam At-taufiq.

Untuk kegiatan pembelajaran di malam hari, biasanya adalah jadwal para santri kelas 6 Diniyah yang kebanyakan pada saat siang hari masih memiliki kegiatan di luar pesantren seperti bersekolah di sekolah umum. Jadi, kegiatan pembelajaran mereka diganti di malam hari hingga pukul 21:00.

Pada kelas Diniyah ini, pembelajaran dibuka dengan membaca pujian kepada Allah SWT dan Shalawat atas Nabi Muhammad SAW. Kemudian dilanjut dengan membacakan syair-syair yang dilagukan, disebut juga sebagai nadzhom. Pada waktu itu, kami mengajar kitab yang diajarkan ialah Kitab Aqidatul Awwam. Kitab ini ialah kitab akidah dasar yang diajarkan di pondok-pondok pesantren sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya. Kami mengajarkan kitab ini dengan membaca syair pada kitab terlebih dahulu dan menulis di papan tulis. Setelah itu, kami menyuruh murid untuk menulis terlebih dahulu syair tersebut di buku tulisnya masing-masing. Kami pun menyerukan untuk membaca syair bersama-sama diirigi dengan lagunya dengan tujuan syairnya dapat dengan mudah dihafal. Setelah menulis dan membaca bersama kami pun menjelaskan makna dan arti dari syair tersebut agar murid-murid tidak hanya hafal namun juga paham dengan isinya.

Hari demi hari telah terlewati. Setelah beberapa pekan kami mengajar di sana akhirnya kami berpisah setelah bermuwajahah dalam beberapa hari. Mereka adalah sang generasi yang akan berhasil suatu saat nanti. Selagi niat dan dan kegigihan yang dijadikan kunci. Banyak hal saya dapat dari mereka, dari mulai yang sederhana hingga luar biasa. Di mana sesederhana senyum yang terpancar kala lelah datang melanda hingga sikap tawadhu’ dari kelembutan hatinya. Semua tercipta tentu tidak terlepas dari perjuangan dari Ustadz dan Ustadzah yang senantiasa membimbing mereka.

  Pondok pesantren Al-Husniyyah bagi kami ialah sebagai wadah untuk mengamalkan ilmu yang kami dapat sebelumnya. Alhamdulillah usaha dan niat baik kami pun berjalan dengan baik. Para Ustadz dan Ustadzah juga merasa terbantu dengan adanya kami, kami pun juga merasa senang sudah diberi izin untuk bisa mendapatkan pengalaman mengajar di Pondok Pesantren Al-Husniyyah ini. Teringat salah satu pepatah arab bahwa ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tak berbuah, sebaliknya ilmu yang diamalkan bagaikan pohon yang berbuah, memberi banyak manfaat bagi sekelilingnya.

Melalui kegiatan mengajar ini kami juga banyak belajar tantang cara mendidik anak-anak usia dini, melatih skill mengajar dan tentunya dapat mengetahui secara real kondisi pendidikan islam non formal yang ada di Desa Rasau. Saya pribadi juga merasa sangat beruntung memiliki kesempatan untuk terjun langsung mengajar para santri Pondok Pesantren Al-Husniyyah. Saya juga sadar betapa sulitnya mendidik para santri, apalagi sebagai perempuan yang nantinya akan melahirkan generasi penerus bangsa, maka sudah seharusnya perempuan memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas untuk nantinya bisa mendidik dan melahirkan generasi penerus bangsa yang berkualitas bertaqwa dan berakhlak mulia, oleh karena itu sebelum mendidik memang seharusnya seorang pendidik memiliki wawasan yang luas serta harus rajin membaca dan bermuthala’ah. saya mengutip pesan dari Ning Sheila Hasina Lirboyo “Untuk mencetak generasi islam yang berkualitas, kita sebagai calon pendidik sekaligus madrasah pertama untuk anak-anak kita harus memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, sebab bagaimana kita akan bisa mendidik anak-anak kita dengan baik jika dia di asuh oleh ibu yang tidak berpendidikan, oleh karena itu terdidiklah kalian sebelum mendidik”

Banyak orang mengatakan bahwa masa KKL adalah part terbaik dari masa perkuliahan, awalnya saya sempat ragu dengan statement ini, karena jika menoleh ke belakang sebelum keberangkatan sebagai peserta KKL, saya tidak memiliki teman dekat sekalipun di dalam kelompok KKL tersebut. Tapi, setelah 43 hari dilalui sejak kepulangan saya 31 Agustus 2023 kemarin, agaknya begitu cepat. Rasa hati kurang puas untuk bisa mengenal dan ingin berlama-lama dengan 17 manusia di posko 1 KKLMempawah 3 ini. Bagaimana tidak, masing-masing memberi kesan paling terkenang di dalam relung hati, mulai dari menghabiskan waktu bersama-sama, makan bersama, mengerjakan program kerja bersama, gosip bersama, susah dan sedih ditanggung bersama bahkan saling menjaga agar tak saling menyakiti dan melukai. Ah, rasanya sangat sulit terdefinisi. Banyak pengalaman dan pembelajaran istimewa yang diberikan bahkan rasanya sulit dijabarkan satu persatu. Maka bersamaan dengan ini, saya juga ingin mengahaturkan banyak terima kasih atas segala episode kebahagiaan kemarin yang telah kita lewati dan mungkin tak bisa di ulang kembali. Dari banyaknya hal yang selama ini saya lewati, saya bersyukur diberi akhir yang indah dengan hadirnya kalian di dalam proses saya. Saya tak pernah sesayang ini terhadap sesuatu pun tak pernah setakut ini kehilangan sesuatu, sebab bersama mereka tertawa saya lebih keras, sedih saya lebih sedikit, dan senyum saya lebih banyak

Terbanglah mengangkasa teman-teman ku selamat melanjutkan mimpi dan berjuang pada fase berikutnya.

Dengan adanya KKL ini, semoga mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Pontianak dapat mengambil hikmah dan manfaatnya terutama untuk KKL Mempawah 3 Desa Sungai Rasau Pinyuh 2023.

Last bot not least, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada diri sendiri karena sudah bertahan hingga sejauh ini, you are strong than you think, terima kasih untuk kuat dengan perjalanan panjang kali ini, terima kasih sudah kuat berdiri di kaki sendiri, untuk yang sedang berjuang dan berusaha untuk menjadi perempuan yang mandiri, karena tahu bahwa orang lain tidak selamanya bisa diandalkan dan tidak selamanya hidup di bumi, tetap semangat yaaa, ditimpa gagal lalu berusaha bangkit lagi itu pasti tidak mudah, tapi percayalah, semesta selalu meyakinkan bahwa kita pasti bisa, asal kita tidak menyerah dan jangan pernah tidak percaya dengan diri sendiri yaa, mari sama-sama belajar dan bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik lagi, don’t forget to love your self.

Terakhir untuk penutup sekaligus pepiling dari catatan saya di semester 6 ini saya mengutip pesan dari Ustazah Halimah Alaydrus yang menurut saya deep banget, kalimatnya begini; “Allah menaruhmu di tempatmu yang sekarang bukan karena kebetulan, tapi Allah telah menentukan jalan terbaik untukmu, Allah sedang melatihmu untuk menjadi kuat dan hebat. Manusia yang hebat tidak dihasilkan dari kemudahan, kesenangan dan kenyamanan. Tapi mereka dibentuk dengan kesukaran, tantangan dan air mata”

So, tetap kuat dan tetap semangat ya dear, sebentar lagi pasti kita akan menikmati hasil indah dari apa yang selama ini kita doakan dan perjuangkan. Mari bertahan untuk mimpi-mimpi indah kita yang belum jadi kenyataan, harapan-harapan yang belum terwujudkan dan orang-orang kesayangan yang harus dibahagiakan.

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca setoreh kisah perjuangan saya di semester 6 ini.

See u on top !!!

Salam mahasiswa !!!

Wassalamu’alaikum Wr. Wb


Catatan Perkuliahan Semester 6

 Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Bismillahirrahmanirrahim Haiii.... Apa kabar kakak-kakak dan abang-abang mahasiswa ? semoga teta...