Kamis, 30 September 2021

Pengalaman kuliah daring di semester 2

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Haiii sahabat blogger, apa kabar? Semoga sehat selalu ya.
Kembali lagi dengan saya Nurul Huda Detalia, di blog kali ini saya akan menceritakan setoreh kisah saya selama menjalani perkuliahan daring di semester 2 ini. Selamat membaca. Hihi
Halo kakak- kakak dan abang-abang mahasiswa! Bagaimana dengan kuliah daringnya, tentunya masih & harus tetap semangat bukan?!
Kuliah adalah salah satu impian terbesar saya semenjak saya masih duduk di bangku MTS, di masa itu saya sering kali membayangkan betapa indahnya dunia perkuliahan, dimana cara berpakaian boleh bebas, tidak ada lagi guru yang mengatur dan sebagainya, selain hal-hal tersebut saya juga menyangka bahwa dunia perkuliahan tidak terlalu memusingkan, sebab apa yang akan saya pelajari adalah ilmu tertentu yang bersifat spesifik sehingga pikiran saya akan terfokus pada satu bidang keilmuan saja. Yang saya pikirkan kalau jadi mahasiswa itu enak, santai, bebas walaupun skripsi itu berat. Seperti itulah ekspektasi yang terbayangkan dalam benak saya mengenai dunia kuliah, bertapa menyenangkan bukan?!
Namun, setelah saya melewati satu semester awal dan semester genap kemarin, ternyata hal tentang kuliah sangat di luar ekspektasi. Semuanya berbanding terbalik dengan pemikiran saya, karena mencari kesempatan untuk istirahat lumayan sulit, sistem belajar yang awalnya saya kira fleksibel ternyata lebih padat, bahkan saat libur sabtu minggu pun kebanyakan waktunya dihabiskan untuk mengerjakan tugas-tugas yang deadline nya di waktu dekat. Walhasil jadi tidak ada waktu untuk liburan apalagi rasanya jenuh ketika harus berjam-jam memandang layar hp ataupun laptop karena mengikuti pembelajaran online.
Pandemi covid-19 di Indonesia telah berjalan hampir dua tahun lamanya dan kurang lebih selama satu tahun ini saya disibukkan dengan perkuliahan online. Sehingga aktivitas belajar dari rumah tersebut seakan lumrah kita rasakan dan mau tak mau harus menerima dengan baik. Pandemi covid-19 menyebabkan segala aktivitas dilakukan dari rumah termasuk belajar. Di IAIN pontianak melakukan langkah sigap menanggapi adanya pendemi covid-19. Program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) di kampus ku memanfaatkan teknologi untuk perkuliahan daring dengan menggunakan beberapa aplikasi untuk kuliah daring diantaranya WhatsApp group, E-learning, Google Classroom, Google Meeting dan Zoom. Akibat sistem kuliah online ini mahasiswa tentu dituntut untuk dapat belajar secara mandiri dan mempunyai inisiatif dalam mengembangkan segala potensi dan wawasannya. Walaupun, sistem kuliah online yang sudah berjalan ini memiliki banyak keterbatasan, akan tetapi tidak ada pilihan lain selama pandemi masih berterbangan di sekitar kita, tentu semua orang memiliki pengalaman menempuh pendidikan selama pendemi covid-19 melanda. Saya pun demikian seperti saya yang daerahnya masih sulit menjangkau akses internet banyak lika-liku cerita yang dapat diceritakan dan rasakan selama menjalani pembelajaran secara .
Sedikit cerita dari saya selama menjalani perkuliahan di masa pandemi, saya tinggal di daerah pelosok yang cukup sulit mengakses jaringan internet, sebuah daerah bernama Desa Wajok Hilir Jungkat Mempawah, sedangkan letak kampus saya berada di daerah kota Pontianak. Saat menjalani perkuliahan tentu bukan hal mudah bagi saya seperti yang dirasakan mahasiswa pada umumnya di perkotaan yang notabene nya kekuatan jaringan untuk mengakses internet bagus atau memiliki wifi di rumahnya. Kendala teknis yang saya hadapi selama perkuliahan daring adalah jaringan internet yang buruk sehingga proses pembelajaran rasanya menjadi tidak efektif, karena sinyal yang susah didapatkan dan buruk apalagi untuk memakai aplikasi meet atau zoom. Salah satu cara agar saya bisa mengikuti pembelajaran daring yaitu saya pergi ke tempat yang memiliki wifi untuk bisa mendapatkan akses internet yang bagus agar dapat mengikuti perkuliahan dengan baik. Agar pembelajaran saya bisa efektif maka untuk menyiasati nya saya melakukan persiapan sebelum jam kulihat tersebut berlangsung, saya terkadang memastikan jaringan wifi terhubung setidaknya 15 menit sebelum perkuliahan dimulai dan aktivitas seperti itulah rutin saya alami selama kuliah online ini. Mungkin ada banyak mahasiswa yang mengalami kondisi seperti saya atau bahkan bisa saja mereka lebih sulit dibanding yang saya . Tantangan lainnya yaitu informasi kadangkala tidak cepat bisa didapatkan mengingat tidak selamanya handphone selalu terkoneksi internet, tantangan lainnya yang saya hadapi jika kuliah namun tiba-tiba hujan turun maka untuk terus mengikuti perkuliahan saya harus tetap pergi ke wifi dengan berjalan kaki karena jalannya berlumpur dan licin, sehingga susah jika diakses dengan menggunakan motor. Untung saja tempatnya tidak jauh berkisar 100 meter saja dari rumah saya. Hal seperti ini juga kadang membuat saya kesal karena sangat terbatas, ketika yang lain dengan santainya bisa berkuliah dengan nyaman dan tenang dari rumah tanpa melangsingkan masalah signal atau jaringan internet yang tidak memadai.
Terkadang saya juga bisa mengikuti perkuliahan dari rumah, jika media pembelajaran nya hanya dengan menggunakan WhatsApp group. Kondisi belajar di rumah tentu tidaklah sama dengan di kampus. Kampus memang disediakan sebagai wadah untuk belajar, bersosialisasi dan berorganisasi untuk mengembangkan segala potensi. Akan tetapi kalau di rumah tidaklah demikian, lingkungan rumah akan dihadapkan dengan suasana yang banyak pekerjaan, meskipun tidak ada paksaan untuk harus dapat bekerja dan membantu orang tua akan tetapi kondisilah yang harus memaksakan untuk tidak menutup mata melihat banyaknya pekerjaan di rumah. Ya setidaknya mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan seperti mengemaskan rumah karena saya adalah anak perempuan pertama dan satu-satunya sehingga dituntut untuk bisa mengurus rumah karena ibu saya yang seorang petani terbilang sibuk mengurus ladang. Pekerjaan itu menjadi tuntutan bagi saya karena tidak mungkin juga saya hanya belajar tanpa memperdulikan keadaan rumah, tidak mungkin juga saya tidak ikut terlibat dan hanya melihat saja orang tua saya yang letih bekerja, apalagi saya berada di rumah maka tentu tuntutan untuk membantu akan lebih tinggi dari dalam diri saya sendiri. Oleh karena itu, selama pandemi menyerang maka pengalaman dan tantangan yang saya alami mungkin bisa dikatakan sulit. Pertama harus dapat mengikuti perkuliahan dengan baik meski dalam kondisi terbatas akses internet, di sisi lain juga harus bisa membantu dan meringankan pekerjaan orang tua di rumah. Namun halangan tersebut tidak membuat saya menjadi malas kuliah mengingat kuliah adalah hal yang saya impikan sejak dulu.
Tak terasa semester ganjil 2020 / 2021 sudah berlalu, kini semester genap telah dimulai, selama dua semester menjalani kuliah sudah pasti banyak hal-hal terjadi, banyak pengalaman baru yang dirasakan dan banyak pembelajaran yang didapatkan. Pada awal April 2021 kemarin, saya sudah sah menjadi mahasiswa semester 2, setelah sebelumnya menjalani proses pembelajaran di semester 1. Proses pembelajaran di semester 2 ini masih sama dengan semester 1 kemarin, yaitu sama-sama masih menggunakan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau biasa juga disebut dengan pembelajaran online (daring). Pembelajaran online memang satu-satunya cara agar proses pembelajaran tetap berjalan di masa pandemi seperti ini. Di semester 2 ini saya mengambil 11 mata kuliah dengan jumlah sks 23. Saya rasa selama semester 2 ini perkuliahan terasa lebih cepat, 16 pertemuan seakan-akan tidak terasa, entah mungkin karena tugas yang tidak terlalu berat atau memang karena sudah bisa lebih santai melakukan pembelajaran online walaupun terkadang ada saja keluhan ketika mengerjakan tugas-tugas berat yang diberikan oleh dosen.
Dalam mata kuliah sejarah peradaban islam, di sini saya belajar tentang berbagai sejarah kebudayaan peradaban pada masa sebelum islam datang, peradaban Islam pada masa Rasulullah, peradaban islam pada masa khalifah. Pada mata kuliah ini setiap minggunya pasti akan diberikan tugas seperti merasa meresume materi, membuat bagan atau peta konsep. Menurut saya pada mata pelajaran ini tugas-tugas yang diberikan tidak terlalu berat, namun tugas yang diberikan rutin setiap minggunya dengan dengan tenggat waktu yang cukup singkat.
Selanjutnya pada mata kuliah bahasa arab, di sini saya belajar tentang bagaimana menerjemahkan teks bahasa arab dengan baik dan benar, pada mata kuliah ini tugas yang diberikan tidak terlalu sering, namun sekali ada tugas tugasnya sangat berat seperti menterjemahkan teks pidato bahasa arab, membuat voice note ceramah bahasa arab, melakukan praktek berdialog bahasa arab dan itu semua dilakukan online di dalam Grup WhatsApp, dan untuk tugas UAS kita ditugaskan untuk menterjemahkan teks bahasa arab yang cukup panjang dan parahnya lagi masing-masing mahasiswa harus menterjemahkan teks yang berbeda dengan mahasiswa lainnya. Sudahlah tidak bisa mencontek, mencari jawaban di google pun terasa percuma karena terkadang terjemahan di google tidak sesuai dengan makna sebenarnya. Tapi untungnya waktu yang diberikan untuk mengerjakan UAS cukup lama mungkin sekitar 3 minggu dan untuk mengerjakan tugas UAS ini, saya meminta bantuan kepada abang sepupu saya yang dulunya pernah mondok dan alhamdulillah dengan bantuannya akhirnya saya bisa mengumpulkan UAS tepat waktu karena jika saya mengerjakan sendiri akan bisa dipastikan banyak salah dan nilainya tentu tidak akan mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM).
Untuk mata kuliah pendidikan multikultural ini sistem pembelajaran nya yaitu dengan diskusi. Setiap pertemuan tak pernah tak melakukan diskusi, pada jam pertama dosen pengampu biasanya membacakan atau menjelaskan materi yang akan dipelajari atau didiskusikan, nah untuk jam yang kedua nanti maka akan dibuka sesi pertanyaan, tema pertanyaannya bebas yang berkaitan dengan multikultural dan yang menjawab pertanyaan pun bebas ,siapa saja bisa menjawab dan mengutarakan pendapatnya. Namun, pada diskusi ini hanya ada beberapa orang yang aktif bertanya atau menjawab, kebanyakan teman-teman di kelas termasuk saya hanya menjadi penyimak atau menjadi audiens yang pasif. Sekedar hadir di mata kuliah dan google meet agar tidak dinyatakan tidak hadir. Formalitas semata dan akhirnya setelah mengikuti UAS dan nilai pun sudah keluar, hasilnya pun sama, pas-pasan formalitas ala kadarnya. Ya saya sadar diri juga, tidak aktif diskusi kok mau dapat nilai tinggi, dan ini bisa dijadikan pembelajaran agar kedepannya saya bisa aktif diskusi dan lebih berani untuk speak up.
Pada mata kuliah Masa’il fiqhiyah, mata kuliah ini juga sama sistem pembelajaran nya, yaitu dilakukan dengan diskusi. Namun pada saat awal pertemuan pertama sudah dibentuk kelompok. Pada saat pembagian kelompok saya terlambat mengelist nama kelompok sehingga akhirnya saya mendapatkan kelompok 1 karena kawan-kawan saya tidak ada yang memilih kelompok 1, dan parahnya lagi anggota kelompok 1 hanya terdiri dari dua orang, awalnya saya kira diskusi kelompok kami tidak bisa berjalan dengan baik tapi ternyata alhamdulillah dosen pengampun mata kuliah malah memuji kekompakan kami, walaupun anggotanya hanya terdiri dari 2 orang kami bisa melakukan penyajian materi dan penjelasan materi dengan cukup baik, cepat tanggap dalam menjawab pertanyaan dari teman-teman penanya. Terkadang memang benar pikiran-pikiran negatif itu yang membuat kita takut untuk maju, takut untuk melangkah padahal belum tentu apa-apa yang kita pikirkan itu benar-benar terjadi.
Selanjutnya review tentang pendidikan karakter. Mata kuliah ini adalah mata kuliah yang paling santai, dalam 16 pertemuan hanya ada beberapa kali pemberian tugas, selebihnya terkadang hanya absen dan kita cukup membaca atau memahami materi-materi, terkadang juga kami hanya disuruh membuat resume materi terkait materi yang telah dipaparkan, tidak ada tugas yang berat, sebenarnya dalam silabus ada kegiatan observasi untuk nilai UTS, namun karena dosen pengampun mata kuliah yang jarang bisa masuk kelas karena kesibukannya mengurus ibunya yang sedang sakit, akhirnya observasi tidak jadi dilakukan. Nah pada jam atau kuliah ini saya biasanya melakukan perkuliahan dari rumah, karena sedari awal dosennya mengatakan bahwa media pembelajaran cukup menggunakan whatsapp grup saja. Pada mata kuliah ini juga terkadang saya bisa menyempatkan mengemas rumah. Seperti kata pepatah, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, begitulah kira-kira yang saya lakukan, sambil mengikuti perkuliahan biasanya saya mengerjakan pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Untuk mata kuliah bahasa inggris, pada mata kuliah ini saya ditunjuk oleh teman-teman kelas saya untuk menjadi penanggung jawab mata kuliah. Awalnya saya menolak karena takut tidak bisa menjalankan amanah dengan baik, tapi teman-teman saya meyakinkan saya bahwa saya bisa dan untung saja saya mendapatkan fatner pj yang baik dan juga rajin, relasi kerjasama kami juga terjalin sangat sangat baik. Namun ada suka dukanya menjadi PJ, dukanya menjadi PJ di mata kuliah bahasa inggris ini adalah saya harus siap direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan teman di kelas yang terkadang menanyakan tugas yang diberikan, padahal saya sendiri tidak paham tugasnya bagaimana karena saya juga tidak terlalu paham dengan bahasa inggris, dan ya satu lagi di mata kuliah ini PJ yang mengontrol pengumpulan tugas kawan-kawan, PJ akan mengumpulkan tugas teman-teman ke dalam bentuk folder. Nah, terkadang pada saat tenggat pengumpulan tugas, ada saja yang telat mengumpulkan tugas, padahal H-1 pengumpulan, saya sudah mengingatkan teman-teman, namun tetap saja ada yang telat dengan alasan yang beragam dari mulai lupa hingga tidak ada kuota untuk mengirim tugas. Ya sebagai PJ juga dilema antara ingin meninggalkan tugas teman atau menunggu tugas teman-teman saya lengkap. Jika ditinggalkan kasihan takut tugasnya tidak diterima dosen, namun jika ditunggu adanya malah PJ sendiri yang dimarahi. Serba salah memang antara memilih solidaritas atau memilih totalitas.
Pada mata kuliah akhlak tasawuf ini sistem pembelajarannya sama dengan lainnya yaitu diskusi kelompok. Namun media pembelajarannya dengan menggunakan whatsapp group tapi setelah UTS, media pembelajarannya diganti dengan google meet karena dari pantauan dosen, banyak teman-teman yang hanya sekedar aktif WhatsApp namun tidak serius mengikuti perkuliahan. Sekedar melihat pesan tapi tidak dibaca. Untuk tugas, pada mata kuliah ini hanya disuruh membuat resume materi yang diketik serapi mungkin dan dikirim kepada PJ sebagai nilai tugas UTS dan untuk nilai UAS nya kita diberikan lima buah soal yang jawabannya cukup membuat tangan keriting mengetiknya.
Sedangkan untuk ilmu kalam sendiri sistem pembelajarannya sama seperti yang lainnya yaitu diskusi. Untuk tugas dari mata kuliah ini yaitu kita diberikan perintah untuk memberikan kesimpulan dengan mengirimkan voice note di grup WhatsApp mata kuliah setelah selesai diskusi. Kesimpulan ini juga nantinya dijadikan nilai UTS dan untuk tugas ulangan akhir semester hanya disuruh meresume jurnal yang sesuai dengan materi kelompok masing-masing dengan tulis tangan.
Mata kuliah civic education ini media belajarnya dengan diskusi. Pada mata kuliah ini kelas saya juga digabung dengan kelas D, sehingga lebih meramaikan audiens dan diskusi bisa lebih menarik dan kami diskusi ini lebih seperti webinar. Dosen sebagai fanelis dan ada juga teman-teman sebagai narasumber. Narasumber dan penanya juga dipilih langsung oleh dosen sehingga pada saat diskusi tentu bisa lebih mudah dan asik karena sudah mempersiapkan materi atau pertanyaan dari jauh-jauh hari. Semacam debat begitulah.
Untuk mata kuliah islam dan budaya lokal, di antara 11 mata kuliah, mata kuliah ini yang menurut saya tugasnya cukup berat, selain diskusi kita juga diberikan tugas lainnya. Tugas yang paling saya ingat dari mata kuliah ini adalah mendata inventaris bangunan bersejarah di masing-masing tempat tinggal dan sebagai observator kita harus turun langsung atau mengobservasi langsung ke tempat bersejarah itu dengan dibuktikan foto di samping bangunan bersejarah tersebut. Parahnya lagi antar mahasiswa objek bangunan bersejarah harus berbeda. Saya memilih bangunan bersejarah di Peniram yaitu Masjid Babussalam dan makam almarhum K.H Fathul Bari. Untuk kesana saya membutuhkan waktu perjalanan sekitar 1 jam, dan di sana saya hanya datang untuk memfoto bangunan bersejarah tersebut, saya tidak bisa masuk(ziarah) karena saya dalam keadaan udzur (haid) jadinya setelah selesai memfoto saya istirahat sekitar 15 menit di warung dekat masjid tersebut sekaligus bertanya dan menggali informasi tentang Masjid Babussalam ini. Huh sungguh melelahkan, hanya untuk sekedar memfoto bangunan saja perlu jauh-jauh ke Peniram sana. Namun ini adalah tuga, mau tak mau, suka tak suka ya harus dikerjakan agar bisa mendapatkan nilai, semua memang butuh pengorbanan bukan?! Selain itu pengalaman berkesan saya pada mata kuliah ini juga saya pernah mengerjakan tugas hingga larut malam, pergi sendiri ke wifi malam-malam untuk mencari referensi di internet, namun belum juga tugasnya selesai malah mati lampu mendadak. Kesabaran dan keberanian saya saat itu memang benar-benar diuji, karena terindah desas desua berita bahwa di kampung saya ini ada yang melihat kuntilanak, dengan berbekal ayat kursi yang saya rapalkan sepanjang jalan, akhirnya saya bisa sampai di rumah dengan selamat. Malam-malam yang cukup menegangkan.
Pada mata kuliah Fiqih ini tugas yang diberikan tidak terlalu banyak, di awal pertemuan hanya ada pembagian materi dari dosen, kemudian pertemuan berikutnya pembuatan video dari materi yang sudah didapatkan, dan pertemuan selanjutnya hanya dilakukan diskusi sesuai materi-materi yang disampaikan oleh para penyaji materi.
Untuk semester 2 ini memang tak terlalu banyak pengalaman-pengalaman yang mengesankan, apalagi saya hanya sibuk kuliah dari rumah, tidak ada kegiatan lain seperti mengikuti organisasi atau UKM kampus, bukannya tidak mau, hanya saja karena masih ada covid-19 dan juga perkuliahan online sehingga saya takut tidak bisa membagi waktu antar keduanya, alasan lainnya juga karena rumah saya yang cukup jauh jaraknya dengan kampus sehingga menyulitkan saya untuk mengikuti organisasi mahasiswa.
Begitu banyak manfaat dan makna dibalik masa sulit yang saya tempuh. Ketidak sesuaian antara khayalan saya selama ini tentang dunia perkuliahan dengan kenyataan yang terjadi dalam dunia perkuliahan yang sesungguhnya sekarang. Dapat saya maknai sebagai suatu kenyataan yang harus saya tempuh sekalipun perjuangannya berat dan membutuhkan banyak pengorbanan. Saya merasakan kepuasan tersendiri setelah saya berhasil menuntaskan tugas-tugas berat selama semester 2 ini. Tak lupa saya ucapkan terima kasih untuk diri sendiri yang sudah kuat dan sudah bisa diajak bekerjasama menyelesaikan tugas-tugas berat hingga dini hari. Tidak apa pelan-pelan saja, terima kasih sudah mau diajak bekerjasama selama ini you did your the best. Terkadang kita perlu mengapresiasi diri kita sendiri yang sudah mau diajak berusaha dan berproses menjadi lebih baik lagi, meskipun progress nya baru terlihat sedikit. Karena hakekatnya manusia lain tidak akan pernah tahu semendung apa langit mu hari ini, sekuat apa badai yang kau alami dan segelap apa dunia yang kau lihat saat kau terjaga saat ini. Namun, stop complaining kita tidak bisa memilih dan membuat jalan hidup kita sendiri, tetapi ingat kita bisa memilih menata masa depan yang seperti apa. Keep doing the best. Remember Allah knows best what we are doing.
Saat ini saya memutuskan untuk mulai berfikir dan bersikap positif dalam menjawab segala tantangan perkuliahan selama 3 tahun ke depan. Saya jadi teringat akan pepatah klasik berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, sakit-sakit dahulu maka akan bersenang-senang kemudian. Saya menyadari bahwa setiap tantangan yang saya hadapi dalam dunia perkuliahan meskipun itu berat namun pasti suatu hari nanti saya akan menuai hasil yang mendatangkan manfaat bagi saya sendiri. Makna lainnya yang saya ambil sebagai salah satu pedoman hidup yang juga saya tanamkan seperti pepatah “hidup adalah perjuangan”, selama saya masih hidup maka saya harus terus berjuang untuk menjawab tuntutan zaman, berjuang untuk meraih impian saya, berjuang demi masa depan saya, berjuang untuk membanggakan dan membahagiakan kedua orang tua saya serta agar bisa menyebar manfaat untuk orang-orang banyak. Kuliah mungkin berat tapi kita harus terus bertekad dan bekerja keras yaitu belajar dengan giat, harus pandai memanajemen waktu dengan baik, tak lupa juga untuk beribadah dan berdoa kepada tuhan dan meminta doa dan support dari orang tua, maka kuliah mungkin akan terasa lebih menyenangkan.
Harapan saya semoga di semester depan saya bisa mendapatkan nilai yang lebih baik lagi, bisa terus istiqomah dalam menuntut ilmu, bisa terus berubah dan berbenah menjadi pribadi yang lebih baik lagi, serta semoga di semester ini atau di semester depan pandemi bisa berakhir dan pembelajaran tetap muka bisa segera dilaksanakan.
Sekian setoreh kisah perjalanan kuliah saya di dunia perkuliahan yang baru semester kedua ini. Semoga kisah saya ini dapat bermanfaat bagi para pembaca khususnya bagi para mahasiswa yang mulai jenuh dengan dunia perkuliahan online. Hati boleh bosan namun jangan sampai semangat menuntut ilmu menjadi padam. Semangat kuliah onlinenya teman-teman!!! Hidup Mahasiswa !!!

Terimakasih sudah berkunjung

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Catatan Perkuliahan Semester 6

 Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Bismillahirrahmanirrahim Haiii.... Apa kabar kakak-kakak dan abang-abang mahasiswa ? semoga teta...